ACEH – Bencana banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa, hingga Kabupaten Aceh Tamiang menyisakan kisah dedikasi seorang jurnalis yang tetap bertugas meski menjadi korban. Ilham Zulfikar, kontributor tvOne Aceh, menjalani peliputan panjang di tengah lumpuhnya akses dan krisis kemanusiaan.
Ilham mengungkapkan, dirinya telah melakukan peliputan bencana selama 12 hari berturut-turut di wilayah Aceh Timur. Di tengah tugas tersebut, ia mendapat informasi bahwa di Kabupaten Aceh Tamiang masih terdapat warga yang sudah tujuh hari tidak menerima bantuan logistik.
“Mendengar informasi itu, saya langsung memutuskan bergerak ke Aceh Tamiang. Saat itu sudah memasuki hari ke-14 saya berada di lapangan,” ujar Ilham.
Namun setibanya di lokasi, kondisi yang ia temukan jauh lebih parah dari perkiraan. Ilham menyebut Aceh Tamiang saat itu bagaikan kota mati.
“Saya merasa inilah yang disebut kota zombie. Saat malam hari suasananya sangat mencekam. Bau busuk menyengat di mana-mana, puing-puing bangunan berserakan, kayu gelondongan menumpuk di badan jalan,” tuturnya.
Tak hanya itu, ratusan rumah dilaporkan hancur diterjang banjir bandang. Bahkan kendaraan berat seperti mobil tangki bermuatan sekitar 20 ton ditemukan terangkat dan tersangkut di atas truk Fuso akibat derasnya arus banjir.
Menurut Ilham, kondisi warga sangat memprihatinkan. Banyak warga panik dan histeris, sementara pasokan makanan dan air bersih tidak tersedia. Seluruh akses jalan terputus, membuat wilayah tersebut benar-benar terisolasi.
“Tidak ada suplai makanan, tidak ada air bersih, semua akses putus total. Saat itu saya menyimpulkan, Aceh Tamiang benar-benar seperti kota mati,” katanya.
Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, Ilham sendiri merupakan korban banjir. Rumah tempat tinggalnya terendam air, dan ia harus menjalankan tugas dengan keterbatasan akses listrik, jaringan komunikasi, serta sarana transportasi.
Meski demikian, panggilan profesi dan rasa kemanusiaan mendorongnya tetap berada di garis depan peliputan. Ia berupaya mendokumentasikan kondisi warga dan menyampaikan realitas di lapangan agar mendapat perhatian luas.
Kisah Ilham Zulfikar menjadi potret nyata dedikasi jurnalis di daerah bencana—ikut terdampak, namun tetap berdiri teguh untuk menyuarakan penderitaan masyarakat dan menghadirkan fakta dari lokasi yang nyaris terputus dari dunia luar.












